Tokoh Inspiratif Indonesia – Taufik Faturohman, Ph.D.

Nama saya Taufik Fatturohman, pekerjaan dosen, the hardest job in this planet is not astronaut, pekerjaan tersulit di planet ini bukan astronot katanya, hasil survey itu katanya guru itu salah satu pekerjaan tersusah di dunia, begitu katanya

Passion saya memang kembali ke kampus, mengajar. Alhamdulillah saya juga bisa lulus dari MBA ITB, dengan nilai yang baik, cum laude, saya hampir straight A student. Alhamdulillah akhirnya waktu itu saya dapet offer confirmation of enrollment dari salah satu sekolah di Australia, di Curtin University Perth

Kalau ditanya kondisi mata saya sekarang seperti apa agak susah menjelaskannnya, tapi gampangnya sih kalo dari 100% penglihatan saya sekarang 5%.

Dari kecil, dari SD saya sudah memakai kacamata. Saya pikir memakai kacamata hanya karena masalah mata minus biasa, baru kemudian ketika kuliah saya periksa ke dokter, ternyata ada masalah dengan mata saya, baru diketahui namanya retinitis pigmentosa. Itu sejak kuliah waktu S1, di teknik material ITB. Jadi S1 udah makin menurun, terutama malem saya udah susah banget melihatnya.

Mainan di belakang ini saya saya kumpulin mostly sebelum saya menikah, waktu saya udah kerja tentunya, karena dari dulu saya suka transfomer, saya suka yang merubah sesuatu, lego kayak begitu, mobil berubah jadi robot.

Kalo saya flashback, melakukan introspeksi saya sudah di titik ini, jelas ini saya pikir ini sesuatu yang mustahil kalo hanya mengandalkan usaha saya saja, S3 sebagai pencapaian akademik tertinggi itu tidak mudah apalagi dengan kondisi saya seperti ini. Jadi memang saya sadari ini ada campur tangan Tuhan, dan yang pasti semua di keliling saya sangat support, terutama keluarga dan orang tua. Tidak mungkin saya mencapai ini tanpa orang tua.

Dulu kebiasaan suka menghitung, berapa langkah saya, saya hitung, tidak untuk dihapalkan, jadi ketika saya di kampus saya tau saya melalui jalan yang mana, menghitung posisisnya, misalnya dari lift sebelah kiri nomor dua dan seterusnya, sampai jumlah anak tangga saya hapal. Saya banyak dibantu oleh istri saya, terutama waktu S3. Jadi bisa dibilang part of my PHd is her’s.

Reaksi orang setelah mengetahui saya low vision bilang “oh pak Taufik itu ternyata kondisinya seperti ini, saya pikir bapak ini orangnya sombong, karena ketemu di jalan saya dadah-dadahin ga dibales, oh ternyata kondisinya begitu”. Memang waktu itu saya tidak bilang kondisi saya seperti apa kepada siapa2, kecuali ketika di kelas saya bilang ke mahasiswa bahwa kondisi saya seperti ini dan saya butuh kerjasamanya.

Kalo yang tau supportif, dan pengalaman waktu di bandara Perth, saya harus masuk ke metal detector, tapi saya bingung kurang ke kiri atau kurang ke kanan dan sepertinya saya salah masuk. Kemudian petugas security disana mengarahkan saya “hey hey come here, over here” saya masih agak bingung, “are you stupid or what?” saya balas “no, no I’m not stupid, I just can’t see” sambil tertawa, dan dia seketika langsung terdiam.

Kadang ada perilaku yang terlalu mengistimewakan kadang tidak nyaman juga. Mahasiswa di MBA atau di S1 pasti saya sampaikan “I have no special rules in my class, you can interupt me at anytime, but please if you want ask something or interupt me dont just raise your hand. Jangan cuma angkat tangan karena saya tidak akan lihat, please just shout” saya bilang begitu. Saya juga ceritakan kondisi penglihatan saya yang tinggal 5%, kondisi low vision saya bukan untuk jadi alasan, ini bukan alasan saya untuk untuk memberikan lousy lecture seperti itu. Karena saya tidak tahu bagaimana ekspresi mahasiswa saya. Apakah bosan ataukah excited, saya tidak bisa melihat raut mukanya, jadi saya dengar aja suaranya, misalnya suaranya mulai tidak enak, misalnya harus break atau seperti apa, memang challenge nya seperti itu. Seharusnya saya menghapal satu-satu nama mahasiswanya, tapi agak susah karena saya menghapal lewat suaranya saja, tapi sekali lagi mahasiswa saya banyak membantu, kami bekerja sama dengan baik.

Salah satu ketakutan terbesar saya adalah saya akan menurunkan kondisi ini kepada anak-anak saya. Saya tidak bisa mengenali orang dari raut mukanya, yang membuat saya kesulitan adalah menginterpretasikan   orang itu (terutama istri dan anak-anak saya) apakah sedang senyum atau cemberut, itu yang kadang-kadang it makes me frustating. Misalnya kalo anak saya dipanggil lalu ga nyahut, ini maskudnya sedang senyum atau sedang ngambek atau gimana, itu agak sulit. Tapi secara umum bagaimana saya mengenali anak saya yang jelas pertama suara, kemudian siluet, bahkan saya mengenali dari langkahnya. Saya hapal langkah anak saya seperti apa.

Putri saya 2, Aisyah 7,5 tahun dan Mikaila 5,5 tahun, tapi Ramadhan tahun ini Mika meninggal. Itu saat-saat yang paling berat untuk saya, tapi Mika memberikan banyak pelajaran, Mika anak yang ceria, istilahnya jadi badut di keluarga ini. Kami yakin ini yang terbaik untuk Mika dan buat kami, yang jelas sekarang posisi dia udah lebih enak disana. Hanya memang egoisme saya yang masih pengen peluk dia,  cubit dia. Tapi engga menyesal sih.

Banyak hikmah yang saya dapat, istri saya bilang kita harus belajar dari Mika, dia tuh sabar banget. Saya ga kebayang anak 5 tahun merasakan sakit yang luar biasa, katanya tangannya sampai biru karena ditusuk jarum dan sebagainya, saya ga bisa membayangkan itu. Tapi selama di rumah sakit itu dia ga pernah nangis yang berlebihan, saya ga pernah liat dia kesakitan berlebihan, jadi kesabarannya luar biasa terutama untuk anak sekecil itu. Jadi dengan kehilangan dia jadi ujian yang sangat besar bagi kami. Tapi istri saya berkata ujian tidak akan lebih ringan, dan saya setuju dengan itu.

Ya semangat motivasi naik turun jelas, yang membuat tetap termotivasi adalah ya yang paling berpengaruh ya keluarga saya, terutama istri saya. Istri saya yang menguatkan saya, kami saling menguatkan, saya pernah berkata kepada istri saya kalo nanti salah satu dari kita meninggal dulu, saya berharap itu saya karena ya sebesar itulah peran keluarga terutama istri saya bagi saya. Ya jelas keluarga termasuk orang tua saya itu sangat penting bagi saya, tapi istri saya itu spesial lah.

Tuhan tidak pernah menilai hasil, karena hasil itu pada akhirnya ditentukan juga oleh Tuhan, tapi yang pasti Tuhan nilai dari kita adalah usaha kita, sejauh mana kita berusaha, itu yang akan dinilai oleh Tuhan. Jadi kita semua punya masalah, dan selama kita masih hidup kita akan terus mendapat ujian. Ujian baru selesai kalo kita sudah tidak hidup lagi. Tetapi ketika kita mendapat ujian , ada pesan yang bagus dari Ali bin Abi Thalib, sahabat nabi, jangan mengadu kepada Tuhanmu bahwa kamu punya masalah yang besar, meskipun itu boleh kita lakukan, kita boleh mengadu, kita boleh meminta kepada Tuhan apapun, tapi menurut said bin ali jangan melakukan itu, tapi katakan pada masalahmu, bahwa kamu punya Tuhan yang lebih besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *