Ari Eko Prasethio

Creator, speaker, founder

Semua episode

Builder's Story

Roti Bakar Rp13 Ribu, Dua Kali Menyerah, lalu Dibayar Klien AS: Kisah Ahmad Rosid

Ahmad Rosid, Founder, Nakama

Ahmad Rosid, Founder Nakama, cerita jalan dari roti bakar Rp13 ribu sehari, Rp100 juta untuk Nakama, dua kali menyerah, sampai di-hire klien di AS.

Bab episode

  1. Cuplikan
  2. Dari Lampung Barat: anak SMK yang batal kuliah karena ibu tak sanggup biaya hidupnya
  3. MLM, pecel lele, roti bakar Rp13 ribu sehari, lalu dipecat dan pulang dengan uang Rp50 ribu
  4. Padang: novel Negara Kelima, warnet dua jam sebulan, lalu beasiswa Pondok Programmer di Jogja
  5. Umrah sekeluarga: "hidupku yang sulit ternyata dipersiapkan untuk momen ini"
  6. Orchids, Bud, lalu diakuisisi Figma: kenapa Rosid memutuskan membangun sendiri
  7. Dari Tinyclaw jadi Nakama: nama dari motto Tokopedia dan klien pencinta One Piece
  8. Kenapa Rp100 juta habis: server, sandbox Rp30 ribu per bulan, dan 27 penyedia LLM
  9. Cara jual ke perusahaan: automation daily report Rp5-10 juta, hemat tujuh jam
  10. Nakama gagal: rugi, menyerah dua kali, lalu bekerja sebagai konsultan
  11. Setiap pagi ada pull request baru: kenapa tidak jadi menyerah, dan klien AS yang datang karena Nakama
  12. Demo: kenapa Nakama bertema tim, dan VM + DeepSeek seharga Rp100 ribu
  13. Satu agent memantau 179 situs tender konstruksi: plugin untuk klien B2B
  14. Harga Rp100 ribu: dapat VM dan DeepSeek 100 juta token, atau pakai kunci sendiri
  15. Software factory: Rosid memakai Nakama untuk membuat Nakama
  16. Model bisnis tim: per seat, satu VM per orang, dan target Rp20 juta per bulan
  17. Jadi AI engineer kelas global: bikin coding agent, bahasa Inggris, GitHub, dan negosiasi
  18. Kebiasaan kerja dengan perusahaan luar negeri: update tiap hari, kasih pilihan, jangan nunggu disuruh
  19. Tanya jawab: Threads vs LinkedIn, self-host Nakama, pengguna yang menulis buku, dan guardrail model
  20. Sengaja mirip Claude dan ChatGPT, plugin ala WordPress, dan risiko login Claude
  21. Pesan penutup Rosid: jangan nunggu jago dulu, mulai bergerak

Di episode Builder’s Story ini saya ngobrol dengan Ahmad Rosid, Founder Nakama. Dia AI engineer otodidak dari Lampung yang pernah jualan roti bakar dengan penghasilan Rp13 ribu sehari. Sekarang dia dibayar klien di Amerika. Ceritanya jujur: gagal, rugi, menyerah dua kali, tetapi proyek open source yang hampir dia tinggalkan justru jadi alasan dia di-hire.

Siapa Ahmad Rosid dan apa yang dia bangun

Ahmad Rosid biasa dipanggil Mas Rosid. Dia lahir di Lampung Barat. Menurut ceritanya, orang tuanya miskin, dan setelah lulus SMK jurusan TKJ dia ingin kuliah tetapi tidak bisa. Di SMK dia sudah tertarik dengan software engineering, berawal dari mata pelajaran muatan lokal PHP yang gurunya sebenarnya tidak ada.

Sekarang dia berprofesi sebagai AI engineer dengan spesialisasi harness: coding agent dan segala yang ada di sekitarnya, seperti sandbox, tools, connectors, optimasi biaya, trace dan observability. Produk yang dia bangun bernama Nakama, AI agent open source untuk tim. Nakama diluncurkan dan ramai dibicarakan di Threads dan LinkedIn, dan itulah yang membuat saya mengundang dia.

Masa sulit yang membentuknya

Dia sempat dapat tawaran beasiswa kuliah karena menjadi yang terbaik di jurusannya. Tetapi ibunya bilang tidak sanggup membiayai hidup di kota. Rosid menerima keputusan itu. Setelah itu dia ikut MLM, jualan pecel lele bersama teman yang akhirnya gagal, lalu bekerja jualan roti bakar. Penghasilannya Rp13 ribu sehari, dengan tempat tinggal dan makan disediakan bosnya. Dia bertahan karena ingin belajar hal baru dari bosnya yang seorang internet marketer.

Setelah sebulan dia dipecat dan dibekali uang Rp50 ribu untuk pulang ke Padang, padahal tiket ke sana jauh lebih mahal. Di Padang dia menganggur beberapa bulan, lalu membaca novel Negara Kelima dari pagi sampai malam dan jatuh cinta pada membaca. Dari warnet dia mengunduh e-book dan proyek open source dari GitHub, lalu membaca kodenya meskipun belum paham cara menulisnya.

Dia kemudian bekerja sebagai TU di SMK-nya, melihat iklan Pondok Programmer di Jogja lewat grup Facebook PHP Indonesia, dan lolos beasiswa. Dari situ dia bekerja di startup sampai mendapat pekerjaan remote pertamanya di AS. Setelah menikah penghasilannya sempat turun drastis dan dia kembali berjuang. Pencapaian terbesar yang dia banggakan tahun ini adalah umrah bersama keluarga.

Jadi gara-gara Nakama aku di-hire klienku yang di US itu.

Dari Orchids, Bud, dan Figma ke Nakama

Rosid bekerja di Orchids, yang menurut dia dulu bersaing dengan Lovable. Tim itu lalu membuat Bud, dan hasil kerjanya dilirik Figma yang kemudian mengakuisisinya. Dia yang membuat harness-nya, tetapi tidak diajak ketika akuisisi terjadi. Karena sudah bergantung pada produk itu, dia membuat versinya sendiri bernama Tinyclaw.

Nama itu kemudian diganti. Temannya berkomentar bahwa orang Indonesia sukanya yang kecil, dan Rosid sadar nama “tiny” memang kurang pas. Dia memakai Nakama, kata Jepang yang artinya tim, terinspirasi motto Tokopedia. Klien pertamanya kebetulan pencinta One Piece.

Kenapa Rp100 juta habis dalam lima bulan

Rosid mengaku kebiasaannya setelah dipecat justru boros untuk riset, bukan berhemat. Hampir semua pengeluaran Nakama ada di eksperimen server. Dia ingin setiap pengguna mendapat satu komputer sendiri seperti VPS. Awalnya Nakama memakai Kubernetes, tetapi dia menjelaskan bahwa AI yang bisa menjalankan batch script bisa keluar dari sandbox dan mengakses data penting, apalagi bila memakai model tanpa guardrail.

Tujuannya aman tetapi murah, karena produk ini dijual di Indonesia. Target biaya sandbox maksimal Rp30 ribu per bulan. Pengeluaran lain adalah menguji 27 penyedia LLM. Dalam lima bulan total belanjanya Rp100 juta, atau sekitar Rp20 juta per bulan kalau dirata-rata. Dia sendiri menyebut sebagian dari itu sebagai keputusan yang kurang baik, karena dia mengaku bukan orang bisnis.

Gagal, menyerah dua kali, tetapi tidak jadi berhenti

Rosid terbuka bahwa secara bisnis Nakama gagal: total pendapatan sejauh ini sekitar lima puluh juta, sementara pengeluarannya jauh lebih besar. Dia menyerah dua kali. Setelah itu dia sempat membuat Hermes Agent, tetapi tidak menyukai use case-nya. Akhirnya dia bekerja sebagai konsultan harness untuk dua perusahaan di San Francisco.

Tetapi setiap pagi dia membuka repositori Nakama dan selalu ada pull request baru, isu, dan kontributor, termasuk yang aktif dari Singapura dan AS. Di Discord ada pertemuan rutin tiap minggu, dan para kontributor percaya Nakama akan besar.

Tapi aku nyadar open source itu it’s more than just a code gitu.

Dari situ dia memutuskan tidak menyerah. Nakama juga memberinya hal lain: tempat belajar open source, teknis, bisnis, dan komunitas. Eksperimen sandbox dan harness itulah yang membuat klien di AS menyewanya sebagai konsultan.

Nakama dan model bisnisnya

Nakama mengusung tema tim karena di perusahaan orang bekerja sebagai tim: ada organisasi, anggota, hak akses per peran, pelacakan biaya penggunaan AI, dan dashboard untuk pimpinan. Rosid memberi contoh bahwa engineer tidak boleh melihat data HR.

Ada dua jalur jualan. Untuk bisnis (B2B), dia menjual automation seperti daily report dengan harga Rp5-10 juta, yang bisa menghemat tujuh jam kerja di seluruh perusahaan. Untuk pengguna individu lewat withnakama.com, harganya Rp100 ribu per workspace: pengguna dapat VM dan DeepSeek 100 juta token per bulan, atau memakai kunci sendiri untuk penyedia LLM lain seperti ChatGPT dan Grok. Dia juga menyebut Claude akan menyusul, tetapi tombol login dengan Claude belum dia buka karena masuk area abu-abu.

Dalam demo, dia menunjukkan tim agent buatannya yang membuat konten untuk peluncuran di Threads: satu agent merencanakan konten, satu mengedit, satu memastikan copywriting bagus. Contoh lain adalah plugin untuk klien di dunia konstruksi, satu agent yang mengumpulkan data tender dari 179 situs. Rosid juga memakai Nakama untuk membuat Nakama, sebuah software factory.

Soal angka, dia terbuka: biaya operasional server dan LLM sekitar empat juta sebulan untuk kapasitas dua ratus pengguna, dan saat ini masih disubsidi. Targetnya akhir bulan depan bisa mencapai Rp20 juta per bulan. Pengguna terdaftar sekitar tiga ratus, dan sudah ada yang bayar.

Cara jadi AI engineer kelas global

Saran teknisnya: belajar membuat coding agent, dengan fitur yang sedekat mungkin dengan OpenCode tetapi tidak sekompleks itu. Fiturnya mencakup baca, edit, hapus kode, sub agent, skill, MCP, dan banyak penyedia LLM.

Untuk bersaing secara global, menurutnya yang lebih penting adalah mindset: mau belajar bahasa Inggris, membangun personal branding di GitHub dengan source code dan kontribusi ke proyek orang lain, serta belajar negosiasi dan seni interview. Dia sendiri tidak melamar kerja ke luar negeri, kliennya yang datang lewat GitHub.

Kebiasaan kerja dengan perusahaan luar negeri juga dia bahas:

Harus rajin update, kalau ada blocker selalu komunikasi dan selalu memberikan pilihan dan jangan nunggu disuruh untuk, untuk ngerjain sesuatu gitu.

Dia mencontohkan: kalau butuh Cloudflare, langsung daftar dengan email perusahaan, undang bos, dan biarkan bos yang membayar. Selalu beri pilihan beserta kelebihan dan kekurangannya.

Tanya jawab singkat

Rosid bilang audiensnya kebanyakan di LinkedIn, tempat dia membahas kerja remote, sedangkan di Threads dia bisa lebih santai. Nakama bisa di-deploy sendiri di VPS dengan satu vCPU dan satu GB RAM, tetapi pengguna harus memperhatikan keamanan. Untuk berkontribusi, dia menyarankan bergabung ke Discord, tempat ada sesi berbagi tiap Minggu malam. Salah satu pengguna bahkan memakai Nakama dengan multi agent untuk menulis buku dan mendapat kontrak dari penerbit.

Soal guardrail, itu ada di level model. Model OpenAI dan Claude punya safety guardrail, sedangkan model seperti GLM di luar kontrolnya. Nakama sengaja dibuat mirip produk yang sudah familiar, dengan konsep plugin ala WordPress, dan fitur agent to agent sedang dikerjakan kontributor.

Yang bisa kamu bawa pulang

  • Gagal secara bisnis bukan berarti sia-sia. Eksperimen Rosid di Nakama membuat dia di-hire klien di AS.
  • Proyek open source itu lebih dari kode. Komunitas, Discord, dan kontributor bisa jadi alasan untuk terus jalan.
  • Belajar membuat coding agent, bangun personal branding di GitHub, dan cantumkan email supaya klien bisa menghubungi.
  • Biasakan update rutin, komunikasikan blocker, beri pilihan, dan jangan menunggu disuruh.
  • Pesan penutupnya:

Mulai dari apapun yang udah kamu punya sekarang, mulai bergerak.