Ari Eko Prasethio

Creator, speaker, founder

Blog

Rahasia Sumopod Jual VPS Murah Tapi Tetap Untung, Cerita Aria

Aria, Founder Sumopod, membuka cara jual murah tapi untung, melayani 100.000 user dengan tim kecil, dan krisis database yang berujung refund saldo.

Daftar isi
  1. Murahnya kebangetan, untungnya kelewatan
  2. Reseller tapi diperlakukan seperti pelanggan enterprise
  3. Rahasia harga murah: rak server dan bare metal
  4. Melayani 100.000 user dengan tim kecil
  5. Krisis brand dan hoaks
  6. Tentang koneksi Telegram yang putus
  7. Database korup dan saldo yang dikembalikan
  8. Ke mana Sumopod berikutnya
  9. Kenapa ritel, bukan B2B
  10. Yang bisa kamu praktikkan

Di Builder Story episode 6 bagian kedua, saya ngobrol dengan Aria, Founder Sumopod, dan Zamaludin Abdulah, Founder Tumbuh AI. Pertanyaan pembukanya sederhana tapi bikin penasaran: VPS Sumopod harganya Rp36 ribu, kok masih untung? Jawabannya ada di pilihan partner, efisiensi hardware, dan cara Aria memperlakukan user saat krisis. Pelajarannya berguna untuk siapa pun yang ingin membangun produk dengan harga murah, bukan hanya untuk orang cloud.

Murahnya kebangetan, untungnya kelewatan

Aria menyebut filosofi produknya begini: jualan produk yang murahnya kebangetan tapi untungnya masih kelewatan banyak. Harganya sampai dianggap seperti donasi, tapi dia tetap senang karena untungnya masih oke. Menurutnya, pembeli senang, dia senang, semua bahagia.

Kenapa bisa? Salah satu alasannya, timnya kecil. Aria bercerita bahwa kalau timnya 100 orang, bisnis seperti ini akan boncos. Tapi karena timnya hanya dia dan tim developer, angkanya sudah terasa sangat oke. Margin yang dia sebut di video sangat tinggi, sekitar 90 persen, dan sempat sedikit turun karena dia menambah redundansi server.

Reseller tapi diperlakukan seperti pelanggan enterprise

Sumopod menjual produk dari Tencent. Aria menjelaskan keuntungan statusnya sebagai pelanggan enterprise karena usage-nya besar. Kalau ada keluhan, timnya bisa langsung menghubungi pihak Tencent tanpa membuat tiket dan tanpa antre di jalur biasa. Menurut Aria, banyak pelanggan justru merasa dukungannya lebih cepat, karena permintaan masuk dengan prioritas tinggi.

Dia juga bercerita soal skema pembayaran: setiap perpanjangan, tagihan Sumopod ke Tencent langsung keluar dan dibayar. Jadi kalau user sudah memperpanjang tiga tahun, Tencent yang bertanggung jawab menyediakan layanan selama tiga tahun. Bahkan kalau skenario terburuk terjadi dan Sumopod tutup, Tencent sudah menyediakan fitur migrasi supaya user bisa mengakses server dari akunnya sendiri.

Rahasia harga murah: rak server dan bare metal

Ada dua sumber efisiensi yang Aria buka-bukaan.

Rak Tencent 700 core

Menurut Aria, hardware Tencent tidak dijual di pasaran. Ia custom, dan satu rak bisa menampung 700 core. Dia menyebutnya salah satu yang terpadat di dunia, dan efisiensinya terjadi di level pabrik, arsitektur, sampai hardware. Itu yang membuat harga bisa murah. Ia menyebut di Indonesia satu IP address saja sudah mahal, sementara produk yang dia jual memberi dua core, RAM dua gigabyte, dan IP publik.

Hetzner untuk kontainer

Untuk produk berbasis kontainer, IP publik tidak diperlukan. Karena itu Aria mencari provider lain dan bertemu Hetzner. Dia menyebut server bare metal dengan RAM 256 gigabyte bisa didapat dengan harga bulanan yang sangat murah. Hitungan modal per gigabyte-nya kecil sekali, sehingga produk untuk agent Hermes cukup Rp10 ribu dan dia masih untung.

Aria juga mengaku tidak keberatan membuka ini. Silakan beli server sendiri dan jualan sendiri, makin banyak yang bisa membantu, makin baik, karena masih banyak orang yang perlu infrastruktur terjangkau untuk belajar.

Melayani 100.000 user dengan tim kecil

Soal 100.000 user, Aria bilang biasa saja. Alasannya, partner-nya seperti Tencent dan Alibaba sudah punya jutaan user, jadi angka itu kecil bagi mereka. Dia mencontohkan promo diskon 40 persen yang pernah mereka jalankan: Tencent menerima ribuan mesin virtual per hari tanpa down.

Untuk dukungan user, Aria bergantung pada pelatihan: kalau peserta menemui error, mereka bertanya dulu ke mentor, tidak langsung ke dia. Grup Sumopod juga diisi banyak pendukung yang saling membantu. Dia sengaja ingin memberi pengalaman seperti pelanggan enterprise kepada early user yang membantunya dari awal.

Krisis brand dan hoaks

Aria menceritakan ada seorang influencer yang membuat konten perbandingan yang menurutnya tidak adil. Dampak terbesarnya ke partner reseller, yang ditelepon oleh user mereka karena servernya dianggap jelek. Lalu muncul pula utas yang menyebut Sumopod di-hack. Aria mengecek dan ternyata tidak valid, kontennya akhirnya diturunkan dan pembuatnya minta maaf, tapi kerusakannya sudah terjadi.

Responsnya adalah membuat klarifikasi. Aria sendiri mengaku tidak pernah membandingkan Sumopod dengan produk lain atau menjelekkan brand lain. Pesannya untuk kreator konten: jangan membuat konten perbandingan yang tidak bisa kamu verifikasi. Dia menutup bagian ini dengan satu kalimat yang saya ingat:

Nama baik tuh enggak ada backup-nya

Tentang koneksi Telegram yang putus

Saya sempat bertanya soal koneksi Telegram yang kadang putus di server lokal. Aria menjelaskan penyebabnya: IP Telegram sering berubah, dan DNS bawaan server bisa terlambat memperbarui. Solusi yang dia pakai adalah mengganti DNS server ke Cloudflare atau Google.

Database korup dan saldo yang dikembalikan

Ini bagian yang paling berkesan. Aria mengakui Sumopod pernah down. Beberapa bulan sebelumnya, layanan AI mati hampir satu hari karena database korup. Catatan total top up user masih ada, tapi data usage-nya rusak dan tidak bisa dipulihkan.

Ada dua pilihan: semua saldo dinolkan, atau top up terakhir dikembalikan. Dia memilih mengembalikan saldo semua user. Total kerugiannya hampir 500 juta, menurut perhitungannya. Aria mengutip mentornya: kalau tidak dikembalikan, kamu mungkin kehilangan puluhan miliar ke depan, karena trust tidak bisa dibeli. Hasilnya, kata dia, usage justru naik gila-gilaan. User yang tadinya mengkritik jadi mendukung, dan kompensasinya diterima dengan baik. Dia juga langsung memberi update dan permintaan maaf saat down.

Pelajaran teknis dari insiden itu: server di satu tempat berarti satu kegagalan sudah membuat semuanya nol. Sekarang Sumopod memakai beberapa provider dengan load balance, dan data Supabase disinkronkan ke beberapa titik.

Ke mana Sumopod berikutnya

Aria melihat infrastruktur akan menjadi komoditas yang sangat murah, dan semua orang menjual hal yang sama. Pembedanya, katanya, adalah distribusi, siapa yang menjual. Karena itu dia menyiapkan white label cloud, supaya influencer atau kreator bisa punya cloud provider dengan nama dan brand sendiri, dengan pembagian hasil yang otomatis lewat payment gateway.

Soal produk, kalau aplikasinya open source, mudah ditiru kompetitor, jadi arahnya menuju produk proprietary. Menurut Aria, yang akan menang bukan hanya harga, tapi trust: apakah orang lebih percaya datanya dipegang perusahaan besar atau di solusi yang terenkripsi sampai pembuatnya pun tidak bisa membuka. Setelah infrastruktur, langkah berikutnya menurutnya adalah keamanan, dan dia sudah menyiapkan security scanner tapi belum merilisnya karena belum menemukan titik harga yang pas.

Kenapa ritel, bukan B2B

Aria bercerita, ketika menjual software ke B2B, dia senang tapi pelanggannya sering tidak. Harga ditawar sadis, dan pembeliannya terasa tidak ridha. Karena itu dia memilih ritel, dengan harga yang terjangkau dan pembeli yang senang bahkan mau mempromosikan produknya. Uang dari bisnis ini juga dia pakai untuk membiayai sekolah gratis dan beasiswa.

Yang bisa kamu praktikkan

  • Cari partner yang skalanya besar, supaya lonjakan user tidak membuatmu goyang.
  • Cari titik harga yang murahnya kebangetan tapi untungnya masih kelewatan, dan jangan rilis produk sebelum menemukannya.
  • Siapkan redundansi dari hari pertama. Kalau semuanya di satu tempat, satu kegagalan sudah cukup untuk menjatuhkan semuanya.
  • Saat krisis, beri update cepat, minta maaf, dan kompensasi dengan transparan. Trust lebih mahal dari kerugian jangka pendek.
  • Jangan membuat konten perbandingan yang tidak bisa kamu verifikasi.
  • Jaga kualitas, bikin produk yang mengubah hidup pembeli, tapi juga hidup penjualnya.

Produk apa yang menurutmu bisa dibuat murahnya kebangetan tapi untungnya kelewatan? Tulis idemu di komentar video-nya.