WAPilot: Broadcast ke 592 Grup Lewat WhatsApp Web, Seaman Apa?
Syahdan Filsafan, Founder, WAPilot.id
Syahdan Filsafan, founder WAPilot.id, cerita broadcast ke 592 grup, risiko banned, etika, harga Rp25 ribu, dan cara bikin SaaS sendirian dengan modal domain.
Bab episode
- Cuplikan
- Intro dan kenalan: Mas itu nama asli, bukan gelar
- Dari WA Console yang gampang ke-banned ke WAPilot
- Cara pasang, harga Rp25 ribu, dan paket enterprise
- Fitur AI: saran balasan dan guardrail pinjol-judol
- Demo broadcast: spintax, tarik pesan, reminder
- Laptop atau VPS? Bukan CRM, AI sebulan cuma Rp5
- API, MCP ke Claude, dan keamanan data pelanggan
- Etika broadcast ke 592 grup dan nomor pribadi
- Biaya AI dan tes auto reply langsung
- Baru 5 pelanggan dan ditolak Chrome Store
- Modal domain Rp150 ribu dan tim 3 AI agent
- Kompetitor pakai DOM; bikin extension mudah, marketing susah
- Apipedia gratis dan harga Rp500 ribu jadi Rp25 ribu
- Kalau WhatsApp Web ditutup? Legal atau abu-abu?
- Demo: Claude kirim WhatsApp lewat MCP
- Warming up nomor baru dengan WhatsApp Warmer
- Penutup dan ajakan gabung AI Club
Pertanyaan yang paling sering muncul soal WhatsApp blast selalu sama: kena banned atau tidak? Di episode Builder’s Story kali ini saya ngobrol dengan Syahdan Filsafan, founder WAPilot.id, yang mengirim broadcast ke 592 grup lewat WhatsApp Web dan menceritakannya apa adanya: hasilnya, risikonya, sampai protes dari orang-orang yang merasa di-spam. Ada juga cerita bagaimana dia membangun SaaS berupa Chrome extension hampir sendirian, dengan modal yang hanya habis di domain.
Ikut ngobrol juga Elit Condro, AI enthusiast, yang malam itu bertugas mengkritisi dan mereview.
Kenalan dengan Syahdan Filsafan
Syahdan berdomisili di Jakarta, lulusan ITS, dan saat ini bekerja sebagai full stack developer di Transcosmos Indonesia. Selain itu dia aktif di beberapa komunitas, di antaranya AI Club, AI Builders, dan Grow Circle. Di awal obrolan saya sempat penasaran apakah “Mas” di depan namanya itu gelar. Ternyata itu bagian dari nama aslinya, turunan dari ayahnya. Saya baru yakin waktu melihat nama itu di kolom transfer.
Produk yang sedang dia fokuskan adalah WAPilot.id, sebuah Chrome extension yang bekerja di atas WhatsApp Web. Sebelum itu dia sudah punya platform WhatsApp Gateway bernama WA Console, dan dari situlah WAPilot lahir.
Dari WA Console yang gampang banned ke WAPilot
WA Console adalah WhatsApp Gateway unofficial. Catatannya, karena unofficial, nomor yang didaftarkan mudah terblokir. Syahdan bercerita belakangan banyak pengguna yang mengeluh: nomor baru didaftarkan, langsung keblokir.
Dia sempat melirik WhatsApp resmi dari Meta, tapi harganya menurut dia cukup mahal, antara tiga ratus sampai lima ratus rupiah per bubble chat. Dari situ muncul ide memanfaatkan celah di WhatsApp Web. Jadilah Chrome extension yang awalnya bernama wapilot.apipedia.id, lalu dipendekkan menjadi wapilot.id karena terlalu panjang.
Bedanya dengan gateway unofficial yang memakai script custom, menurut Syahdan, WAPilot masuk langsung dari socket WhatsApp Web di browser. Karena itu dia menilainya jauh lebih aman.
Seaman apa soal banned?
Ini bagian yang paling banyak saya kejar. Syahdan jujur bahwa tidak ada jaminan seratus persen. Tingkat risikonya, katanya, sama saja seperti memakai WhatsApp Web biasa: kalau dipakai berantakan, broadcast dan kirim chat awal habis-habisan, tetap saja bisa keblokir.
Untuk tingkatan bannernya itu sama aja kayak temen-temen menggunakan WhatsApp web pada umumnya.
Menurut dia peluang terblokirnya tetap ada tapi jauh lebih kecil dibanding WhatsApp Gateway unofficial lainnya. Pengalaman pribadinya: broadcast ke 592 grup yang sudah dia ikuti berjalan lancar, memakai fitur speed fast, terkirim dalam satu sampai tiga detik, lengkap dengan gambar, teks, dan link, dan nomornya tidak keblokir.
Etika broadcast ke grup dan nomor pribadi
Yang tidak aman justru dari sisi sosial. Setelah broadcast itu, ada yang marah dan menganggap grupnya di-spam. Syahdan menekankan perlunya kode etik sendiri.
Kalau misalkan itu grupnya sendiri, itu it’s no problem, itu usernya sendiri itu it’s no problem, enggak masalah karena itu teman-teman pegang sendiri.
Tapi kalau broadcast ke grup orang lain, katanya, harus dikendalikan dan perlu izin ke grupnya. Jangan langsung kirim semuanya sekaligus.
Untuk nomor pribadi, dia menyebut tiga hal yang perlu diperhatikan: sudah pernah chat berdua, jeda kirim tidak terlalu cepat, dan sudah saling save contact. Dia pernah mencoba blast ke empat belas kontak lewat chat awal dengan link dan hasilnya aman, tapi dia sendiri tidak menyarankan itu. Yang disarankan: saling save contact, saling chat dulu, dan sebisa mungkin jangan mulai dari chat awal.
Cara pasang dan harga
Instalasinya lewat download file zip dari situs WAPilot, lalu dipasang di menu extension Chrome dengan load unpacked. Syahdan menunjukkan hasil pengecekan VirusTotal untuk file itu. Semua browser berbasis Chromium bisa dipakai, termasuk Microsoft Edge dan Brave. Setelah itu tinggal reload web.whatsapp.com.
Harganya: lisensi umum Rp25 ribu per device per bulan, dengan free trial tiga hari yang membuka semua fitur dan sudah termasuk saldo AI kecil. Satu akun hanya bisa sekali free trial. Hitungannya per browser, bukan per HP atau nomor, jadi ganti HP atau ganti nomor WhatsApp tidak masalah selama browsernya masih satu.
Ada juga paket enterprise seharga delapan ratus ribu rupiah per bulan dengan komitmen minimal dua belas bulan. Semua komponennya, dari aplikasi, database, sampai AI, berjalan di perangkat pelanggan sendiri.
Yang menarik, harga awalnya Rp500 ribu per bulan per lisensi. Syahdan bercerita setelah ngopi dan diskusi dengan Ariaseta, founder SumoPod, dia menurunkan harganya jadi Rp25 ribu. Prinsip yang dia pegang: lebih baik ada pemasukan setiap bulan walau kecil.
Fitur AI: saran balasan, auto reply, dan guardrail
AI assistant di WAPilot bisa diatur bahasa, skill, dan knowledge-nya. Ia membaca nama pengirim dan sejumlah pesan sebelumnya sebagai konteks, jadi balasannya tidak asal. Ada juga fitur perbaiki typo, template pesan, dan translator untuk chat dengan orang luar negeri.
Kalau mau lepas tangan, tersedia auto reply. Ada guardrail yang bisa menolak pesan tertentu, misalnya pesan yang terdeteksi pinjol atau judol dimasukkan ke spam, dan ucapan singkat seperti salam atau “oke” diabaikan. Syahdan memakai AI sebagai decision maker untuk filter itu, dengan catatan harganya sedikit lebih mahal sehingga perlu dipertimbangkan.
Soal biaya, angkanya kecil sekali. Selama dia pakai sehari-hari dan terhubung terus ke WhatsApp pribadinya, biaya AI setelah sebulan hanya Rp5. Kredit AI diisi lewat top up saldo, dan ada puluhan model yang bisa dipilih.
Demo broadcast
Di fitur broadcast, kita bisa membuat session baru, memilih kontak atau grup, memilih pesan teks atau attachment, lalu memakai template. Template bisa lebih dari satu dan mendukung spintax, jadi pembukanya bisa divariasikan. Ada pilihan kecepatan medium, slow, atau fast. Syahdan lebih suka fast.
Dua fitur yang lahir dari protes setelah broadcast ke 592 grup: link untuk berhenti menerima broadcast, dan tarik pesan. Dulu dia menghapus pesan secara manual waktu ada yang minta. Sekarang tinggal pilih pesan dan klik hapus. Ada juga fitur reminder, misalnya untuk ucapan ulang tahun.
Laptop atau VPS, dan posisinya bukan CRM
Karena memakai WhatsApp Web, laptop harus menyala selama dibutuhkan. Cara yang paling banyak dipakai kliennya adalah memasang di VPS dengan antarmuka yang bisa diakses lewat RDP, sehingga Chrome dengan WAPilot tetap menyala walau laptop mati. Pengguna yang butuh webhook dan API biasanya memakai VPS. Yang hanya untuk customer service cukup di laptop.
Posisi produknya, kata Syahdan, bukan CRM. Untuk saat ini lebih ke arah co-pilot yang membantu membalas pesan lebih cepat, meski arah ke depannya mungkin mendekati CRM.
API, MCP, dan keamanan data
Banyak pengguna memakai WAPilot lewat API, misalnya dari aplikasi WordPress atau Laravel yang mengirim notifikasi order ke WhatsApp. Chrome extension sendiri tidak bisa mengirim atau menerima dari luar, jadi lewat fitur API data harus melewati server WAPilot sebagai integrator.
Karena itu sebagian orang curiga pesannya dibaca. Syahdan menjelaskan ada log di sisi remote yang memuat pesan masuk dan keluar yang dikirim ke server WAPilot. Log itu tidak dienkripsi karena enkripsi akan menyulitkan integrasi ke aplikasi lain, tapi bisa dihapus dan masa simpannya bisa diatur. Data yang dikirim hanya untuk fitur yang diaktifkan, dan kalau remote dinonaktifkan, tidak ada yang dikirim dan token API tidak bisa dipakai aplikasi luar.
Ada juga MCP. Syahdan mendemokan Claude yang terhubung ke WAPilot lewat MCP: dia meminta Claude mengirim penawaran ke saya. Claude mencari kontak saya, mengirim pesannya, dan pesan itu benar-benar masuk. Dengan cara yang sama, Claude, Codex, atau ChatGPT bisa dipakai untuk merangkum chat atau mengirim pesan langsung.
Kenapa tidak ada di Chrome Store
Pertanyaan yang wajar: kenapa tidak di Chrome Store supaya tinggal klik add? Syahdan sudah mendaftarkan berkali-kali tapi ditolak. Dugaannya karena aplikasinya dienkripsi. Dia belum mau membukanya karena tidak ingin aplikasinya di-reverse engineering. Untuk pelanggan enterprise, kodenya tidak dienkripsi.
Modal, stack, dan pelanggan
Pelanggannya baru lima orang, dan dia terus terang tidak mengejar balik modal karena memang ingin berbagi. Stack-nya hemat: coding dibantu Claude, server memakai Supabase, hosting di Cloudflare, dan yang dia beli hanya domain, yang kalau promo untuk domain .id cuma Rp150 ribu.
Dia juga bekerja dengan tiga partner virtual berupa AI agent, masing-masing untuk urusan office atau CEO, programmer, dan dokumentasi.
Membuat extension itu mudah, yang susah di belakangnya
Menurut Syahdan, membuat Chrome extension relatif mudah sekarang karena semua bisa dibantu AI. Yang susah debugging, lalu upload ke Chrome Store, dan setelah berhasil, marketing.
Dia juga menjelaskan perbedaan dengan kompetitor. Beberapa memanipulasi DOM WhatsApp Web, sehingga aplikasinya bisa rusak ketika WhatsApp mengubah elemen. WAPilot, katanya, memakai engine sendiri dan tidak membaca elemen-elemen halaman.
Apipedia dan endpoint gratis
Apipedia, perusahaan di balik WA Console, dibentuk pada tahun 2022. Awalnya fokus ke WhatsApp gateway, kemudian menyediakan banyak API lain, seperti pembuatan QR code, OCR KTP, validasi rekening, cek ongkir, dan lainnya. Ada empat puluh tujuh endpoint gratis. Alasan dia memberikannya gratis: dia tidak berfokus pada uang, hanya ingin berbagi.
Legal atau abu-abu?
Saya tanya langsung: kalau WhatsApp Web ditutup, bagaimana? Jawabannya selama masih bisa, jalan terus, dan kalau sudah tidak bisa baru memikirkan alternatif. Dia berjanji tidak akan merugikan klien dan pembelinya.
Soal legalitas, jawabannya jujur.
Dibilang resmi itu juga enggak, dibilang enggak resmi itu juga enggak.
Bedanya dengan script yang disuntikkan ke WhatsApp, WAPilot memakai WhatsApp Web yang memang disediakan WhatsApp. Jadi dia menyebutnya semi official, dan masih ke arah abu-abu.
WhatsApp Warmer
Menjelang akhir saya bertanya soal warming up nomor baru. Ternyata ada menu WhatsApp Warmer, dan butuh minimal dua langganan. Cara lain: dua nomor sama-sama mengaktifkan auto reply AI, dipancing dengan pertanyaan sederhana, lalu AI mengobrol sendiri. Auto reply juga bisa dimatikan per nomor.
Saya sendiri pernah memakai software lain yang membuat warm up bertahap setiap hari, dan setelah dua minggu nomor siap dipakai untuk broadcast. Saya menyebut broadcast WhatsApp itu pasukan berani mati, jadi nomor perlu di-warmer dulu supaya umurnya lebih panjang.
Yang bisa kamu bawa pulang
- Tidak ada jaminan bebas banned. Memakai WhatsApp Web membuat risikonya lebih kecil dibanding gateway unofficial, tapi pola pakai yang berantakan tetap bisa membuat nomor keblokir.
- Untuk broadcast ke grup orang lain, minta izin dan jangan kirim sekaligus. Sediakan cara berhenti dan tarik pesan.
- Untuk nomor pribadi, saling save contact, sudah pernah chat, dan beri jeda kirim yang tidak terlalu cepat.
- Memakai AI untuk auto reply bisa sangat murah, tapi atur knowledge dan guardrail supaya balasannya tidak asal.
- Membuat SaaS kecil sekarang bisa sangat hemat: Claude untuk coding, Supabase untuk server, Cloudflare untuk hosting, dan domain sebagai satu-satunya biaya.
- Membangun itu relatif mudah. Debugging, publikasi, dan marketing yang menuntut waktu.
- Kalau produkmu bergantung pada platform pihak lain, sadari risikonya dan ceritakan dengan jujur kepada pelanggan.
Kalau kamu punya SaaS dan mau berbagi cerita membangunnya, hubungi saya, siapa tahu bisa tampil di Builder’s Story. Dan jangan lupa gabung AI Club di kotamu.
